![]() |
| Ilustrasi perbedaan warna marka jalan |
Masalah manusia sering bukan pada kekurangan, tapi pada rasa tidak pernah cukup.
Diberi sehat, ingin lebih kuat.
Diberi jabatan, ingin lebih tinggi.
Diberi materi, ingin lebih banyak.
Sampai akhirnya melewati batas—over.
Di titik itu, yang tumbuh bukan lagi syukur, tapi angkuh.
Bukan ketenangan, tapi dorongan untuk menekan yang lain.
Padahal sejak awal, Al-Qur'an sudah mengingatkan:
“Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.”
(QS. Al-Alaq ayat 6-7)
Akar dari semua itu sederhana: merasa cukup tanpa Tuhan, tapi merasa kurang dalam urusan dunia.
Ironis.
Karena semakin ia mengejar “lebih”, justru semakin jauh ia dari kesadaran tentang batasnya sendiri.
Di sinilah fungsi iman bekerja.
Iman bukan sekadar keyakinan di dalam hati. Ia punya arah dan dampak yang nyata.
Semakin tinggi iman seseorang, justru bukan semakin tinggi dirinya—
tapi semakin rendah hatinya.
Semakin berilmu, semakin lembut ucapannya.
Semakin berkuasa, semakin hati-hati langkahnya.
Semakin punya, semakin ringan tangannya untuk berbagi.
Itu sisi luar.
Sementara di dalam, terjadi sesuatu yang lebih dalam lagi.
Semakin tinggi iman, semakin kuat tauhidnya kepada Allah.
Ia sadar bahwa semua yang ia miliki bukan miliknya.
Semua hanya titipan, dan bisa diambil kapan saja.
Di titik itu, manusia tidak lagi sibuk membesarkan dirinya,
karena ia sedang membesarkan Tuhannya dalam hatinya.
Dan ketika tauhid itu kuat, kesombongan tidak punya tempat.
Karena bagaimana mungkin seseorang merasa besar,
jika ia benar-benar sadar siapa Yang Maha Besar?
Sebaliknya, ketika iman melemah, yang muncul adalah kebalikan dari itu semua.
Luarannya keras, suka menekan, ingin menang sendiri.
Dalamnya rapuh, kosong dari rasa bergantung kepada Allah.
Ia terlihat kuat, tapi sebenarnya sedang kehilangan arah.
Maka ukuran iman itu sebenarnya sederhana, tapi tegas:
Bukan seberapa tinggi posisi kita,
tapi seberapa rendah hati kita.
Bukan seberapa banyak yang kita kuasai,
tapi seberapa dalam kita bertauhid kepada Allah.
Karena iman yang benar tidak akan membuat manusia “over”.
Ia justru mengembalikan manusia… ke batasnya.
- Muhammad Eri -


