Di berbagai ruang—rapat, seminar, hingga percakapan sehari-hari—ucapan “Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh” begitu mudah kita sampaikan. Ia terdengar indah, penuh doa: keselamatan, rahmat, dan keberkahan. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus mendasar: apakah nilai itu benar-benar hidup dalam cara kita bersikap?
Salam bukan sekadar pembuka. Ia adalah cermin dari kualitas diri. Setiap kali kita mengucapkannya, sejatinya kita sedang berjanji menghadirkan rasa aman, memperlakukan orang lain dengan kasih, dan menciptakan kebaikan yang berkelanjutan. Tetapi dalam kenyataan, tidak sedikit yang mengucapkan salam, lalu dalam interaksi berikutnya justru menghadirkan tekanan, kata-kata yang menakutkan, atau sikap yang membuat orang lain merasa kecil.
Inilah ironi yang perlu disadari. Ketika salam hanya berhenti di lisan, ia kehilangan ruhnya. Ia menjadi formalitas tanpa makna. Bahkan lebih jauh, ia bisa menjadi kontradiksi ketika doa keselamatan justru diikuti dengan tindakan yang meniadakan rasa aman itu sendiri.
Sebagai manusia yang berusaha menuju insan kamil—pribadi yang utuh, seimbang antara iman, akhlak, dan tindakan—kita dituntut untuk menyatukan ucapan dengan perilaku.
Nilai salam harus turun menjadi sikap nyata:
- Menghadirkan rasa aman dalam berbicara dan bertindak
- Menunjukkan kasih dalam cara menyampaikan pendapat
- Menjaga keberkahan dengan tidak menyakiti atau menekan orang lain
Dalam kehidupan sehari-hari, ini terlihat dari hal-hal sederhana. Cara kita menegur, cara kita memberi arahan, bahkan cara kita berbeda pendapat. Apakah kita memilih kata yang membangun atau justru menjatuhkan? Apakah kita mengajak orang memahami, atau memaksa mereka tunduk? Di situlah nilai salam diuji, bukan di awal ucapan, tetapi di sepanjang interaksi.
Memang, ada saatnya kita perlu tegas. Namun ketegasan berbeda dengan tekanan. Ketegasan lahir dari kejelasan nilai, sementara tekanan sering lahir dari keinginan mengendalikan. Ketegasan membangun, tekanan melemahkan. Ketegasan melahirkan rasa hormat, tekanan melahirkan ketakutan.
Insan yang utuh tidak menjadikan ketakutan sebagai alat. Ia membangun kesadaran. Ia tidak sekadar ingin didengar, tetapi juga ingin memahami. Ia tidak hanya ingin diikuti, tetapi juga ingin menumbuhkan.
Muhammad Eri
