Muhammad Eri adalah sosok pemuda yang konsisten menebar nilai kebersamaan melalui kegiatan sosial dan spiritual di lingkungannya. Pergerakannya sudah terlihat sejak tahun 2019, saat ia menginisiasi sinau bareng bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Kegiatan besar ini melibatkan seluruh warga dusun dan menjadi bukti kemampuannya dalam menyatukan berbagai elemen masyarakat.
Keberhasilan itu tidak terjadi secara instan. Sejak tahun 2014, saat masih duduk di bangku SMA, Eri sudah mulai “ngemong” dan merangkul pemuda di sekitarnya. Ia membangun kedekatan, menyatukan visi, dan menanamkan rasa kebersamaan. Proses panjang inilah yang menjadi fondasi kuat hingga lahir gerakan yang mampu melibatkan masyarakat luas.
Pada tahun 2022, ia kembali berkontribusi dalam kegiatan “Tambahmulyo Bersholawat” dalam rangka Maulid Nabi, menghadirkan suasana religius yang mempererat kebersamaan warga.
Memasuki tahun 2023, Eri mulai menyulut “api kecil” di lingkungannya. Ia tidak hanya mengajak anak-anak bersholawat, tetapi juga mendorong mereka menjadi pelaku dengan belajar memainkan rebana. Untuk itu, ia rela pergi ke Jepara demi membeli seperangkat alat rebana lengkap.
Ia juga menginisiasi pengajian gotong royong serta milad Sagara dalam bentuk pengajian sosial yang menghadirkan suasana adem dan nyaman.
“Kita harus bisa menakar dampak makro dan mikro. Ketika Acara Cak Nun, warga ikhlas menjadi tuan rumah, tidak menjadi penikmat,
sementara warga sekitar lebih banyak menjadi panitia. Justru di kegiatan kecil, masyarakat benar-benar merasakan ngaji dan sholawat. Besar tidak selalu gagah, kecil pun tidak kalah bernilai.” Ujar Eri.
Pernyataan ini mencerminkan kedewasaan berpikirnya—bahwa esensi gerakan bukan pada skala, tetapi pada manfaat yang dirasakan.
Meski saat ini beberapa kegiatan sempat terhenti karena kesibukan masing-masing, semangat itu tidak pernah padam. Apa yang telah dirintis menjadi fondasi kuat untuk kembali menghidupkan gerakan yang memberi manfaat dan menyatukan masyarakat.




