Tidak 99 Asmaul Husna, Apa yang Bisa Disombongkan?

Muhammad Eri
0

 


Allah Maha Segalanya. Kalimat ini sering diucapkan, tetapi maknanya tidak selalu benar-benar dihidupi. Ia bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan fondasi cara berpikir dan bersikap. Ketika seseorang sungguh memahami bahwa Allah adalah sumber dari segala yang ada, maka ia akan sadar: dirinya hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas, yang bergerak dalam kuasa-Nya.


Asmaul Husna yang kita kenal tidak berhenti pada angka 99. Itu hanyalah jendela kecil dari keluasan sifat-sifat Allah yang tak terbatas. Manusia, dengan segala keterbatasannya, hanya mampu menangkap sebagian kecil, lalu mengenalkannya kepada sesama—kepada keluarga, sahabat, dan lingkungan terdekat. Dari proses itu, manusia belajar bahwa pengetahuannya tidak pernah utuh, dan kebenaran yang ia pahami pun tidak pernah sepenuhnya sempurna.


Di sinilah letak kesadaran penting: manusia pada hakikatnya tidak bisa apa-apa. Ia berusaha, ia berpikir, ia merencanakan, tetapi hasil akhirnya tetap berada di luar kuasanya. Maka sikap paling jujur adalah pasrah—bukan pasrah yang lemah, melainkan pasrah yang lahir dari taqwa. Pasrah yang disertai usaha, kesadaran, dan pengakuan bahwa segala sesuatu kembali kepada Allah.


Jika kesadaran ini benar-benar tertanam, maka tidak ada ruang bagi kesombongan. Tidak ada alasan untuk angkuh, apalagi menekan orang lain. Sebab bagaimana mungkin seseorang yang penuh keterbatasan berani merasa lebih tinggi dari yang lain? Kesombongan sering kali lahir dari lupa diri—lupa bahwa apa yang dimiliki hanyalah titipan, lupa bahwa apa yang dikuasai bisa hilang dalam sekejap.


Sikap “buta, tuli, kanan kiri”—tidak mau mendengar, tidak mau melihat, dan hanya berjalan dengan ego sendiri—adalah tanda bahwa manusia telah jauh dari kesadaran akan Tuhannya. Ia merasa cukup dengan dirinya, padahal dirinya sendiri rapuh. Ia ingin menguasai, padahal ia tidak benar-benar memiliki apa-apa.


Sebaliknya, manusia yang berlandaskan taqwa akan berjalan dengan lebih tenang. Ia tidak merasa perlu meninggikan diri, karena ia tahu siapa dirinya. Ia tidak menekan orang lain, karena ia sadar semua manusia berada dalam posisi yang sama: sama-sama lemah di hadapan Allah. Dari sinilah lahir sikap mengayomi, bukan menguasai; membimbing, bukan memaksa.


Pada akhirnya, memahami kebesaran Allah dan keterbatasan manusia bukanlah untuk membuat manusia diam tanpa arah. Justru sebaliknya, itu menjadi kompas agar manusia berjalan dengan benar. Ia berusaha sebaik mungkin, tetapi tetap rendah hati. Ia bergerak maju, tetapi tidak kehilangan arah.


Karena dalam hidup ini, yang paling penting bukan seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa dalam kita mampu tunduk. Dari ketundukan itulah lahir kebijaksanaan, dan dari kebijaksanaan itulah manusia menjadi lebih manusia.

  • Lebih baru

    Tidak 99 Asmaul Husna, Apa yang Bisa Disombongkan?

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default